Tampilkan postingan dengan label Perkataan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkataan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Januari 2010

Pungguk merindukan Dua Bulan


Lama aku tidak merasakan kebahagiaan
Lama sekali
Beneran lama, kawan
Hatiku terkunci

Mimpi itu masih ada
Jujur aku akui
Cintanya aku rasakan ketika ia diam saja
Dan aku mencintainya karena ini

Waktu membuat aku bosan
Terkurung dalam ketidakpastian
Dan aku merasakan sedih yang teramat dalam
Aku tidak yakin kalau aku bakalan bisa berhenti untuk tidak muram

Ternyata aku salah
Seseorang di sana di dunia itu
Telah mengembalikan lagi keceriaanku
Aku bahagia, sumpah
Ia menyebutku sahabat

Hatiku mendua sekarang
Kepada dia, yang selalu diam seribu bahasa hening tanpa suara
Dan kepada dia, yang asyik diajak berkomunikasi begitu hangat
Mereka berdua adalah inspirasi

Aku tidak tahu perasaan mereka berdua kepadaku, tetapi itu tidaklah penting
Aku hanya ingin jujur untuk mengatakkan bahwa hatiku memuja mereka berdua
Aku adalah sang pungguk sementara mereka berdua adalah sang bulan
Pungguk di sini merindukan dua bulan di sana dan di situ
Sumedang...

Selasa, 05 Januari 2010

Cinta Sejati


Hanya dia yang ada di dalam imaji
Hanya dia yang berkelebat di dalam pikiran
Hanya dia yang bersemayam di dalam hati
Hanya dia seorang, kawan

Tanpa dia, aku terombang-ambing
Tanpa dia, sebagian jiwaku hilang
Tanpa dia, aku meradang
Tanpa dia, aku kepingin menghilang

Betapa berat hidup ini kurasakan ketika aku tak merasakan kehadirannya

Keperawanan Raffaella Fico sekalipun tidak ampuh untuk menggantikannya
Kecantikan paras Cindy Crowford sekalipun tidak mampu untuk menggantikannya
Kemolekan tubuh Jenifer Lopez sekalipun tidak sanggup untuk menggantikannya
Keperawanan dan Kecantikan paras dan kemolekan tubuh bukanlah itu yang kucari melainkan emosi yang ada di dalamnya

Biarpun ragamu tak tampak, tetapi pabila jiwamu kurasakan keberadaannya di dalam kalbu, di mana yang hilang itu seolah kembali datang, dan oleh karenanya, aku bisa mengarungi kehidupan ini kembali normal

Pabila ada yang bertanya kepadaku mengenai arti cinta sejati, maka akan kujawab begini: cinta sejati adalah cintaku kepada kamu

Sabtu, 26 Desember 2009

Kamu



Kamu adalah makna dalam aku mengarungi hidup
Barangkali bagai Sophia Latjuba untuk Indra Lesmana (dulu)
Barangkali bagai Maia Estianty untuk Ahmad Dhani (dulu)
Barangkali bagai Krisdayanti untuk Anang (dulu)
Barangkali bagai Luna Maya untuk Nazriel Ilham (masih)
Begitulah arti dirimu, bagiku

Kamu adalah ruh dalam aku berkreasi
Barangkali itulah alasan mengapa kok Leonardo Da Vinci bisa-bisanya menciptakan lukisan monalisa
Barangkali itulah alasan mengapa kok Julius Caesar bisa-bisanya menciptakan piramid
Barangkali itulah alasan mengapa kok Ernest Hemingway bisa-bisanya menciptakan karya sastra
Barangkali itulah alasan mengapa kok Sangkuriang bisa-bisanya menciptakan tangkuban perahu
Barangkali itulah alasan mengapa kok Moh. Toha bisa-bisanya menciptakan sejarah Bandung lautan api
Itulah kamu, semangatku untuk mengukir sebuah karya di bumi

Catatan: Terima kasih kepada Senja lantaran telah bertanya. “Siapa gerangan dia?”. Inspirasi perkataanku itu dapatnya dari Senja ketika aku dan Senja sedang chating melalui shotmix, malam-malam. He heh...

Senin, 14 Desember 2009

Pokoknya Aku Mencintaimu


Maaf, aku sudah lupa paras jelasmu kini, tetapi wajarlah itu, lantaran dulu aku melihatmu hanya sekilas-sekilas
Namun janganlah salah, hasil dari curi-curi pandang itu, hingga detik ini, masih terekam jelas dan melekat di hatiku, seolah mengendap begitu saja
Teriang selalu. Berkelebat dan juga bersemayam

Raut wajahmu komplit pernah hadir memenuhi ruang hatiku ketika mataku melemparkan pandang, hanya saja tidak lekat-lekat lantaran jaraknya yang tidak bisa dikatakan dekat, baik yang negatif maupun yang positif

Bukannya aku kepingin mengatakkan bahwa lantaran itulah aku mencintaimu. Bukan. Bukan begitu maksudku. Lantaran aku pun tak mengerti mengapa aku cinta kepadamu. Aku tidak punya alasan, maaf

Sekiranya pun bentuk itu telah berubah, di mana dari hitam menjadi putih, di mana dari kencang menjadi mengendur, di mana dari padat menjadi peot. Maaf, aku tidak punya alasan untuk tidak mencintaimu lagi

Pokoknya aku mencintaimu, maaf

Rabu, 25 November 2009

Betapa Indahnya…


Aku adalah cintamu
Kamu adalah cintaku
Kita adalah sepasang kekasih
Dunia adalah milik kita berdua
Betapa indahnya…

Tuhan itu penuh kasih dan penuh sayang kepada kita
Kita menghasilkan dari peleburan kasih sayang itu, anugerah Tuhan tiada terkira
Pabila lelaki, akulah yang kasih nama
Pabila perempuan, kamulah yang kasih nama
Betapa indahnya…

Sebagai khalifah, aku sayang kalian semua, keluargaku
Sebagai permaisuriku, kamu sayang kepadaku dan mereka, keluargamu
Betapa indahnya…
Sampai maut memisahkan

Ah, betapa indahnya suatu impian

Kangen Tanpa Daya. Berharap Tanpa Lelah



Ketahuilah, bahwa sesungguhnya diriku di sini, merindukan dia di sana
Sebetulnya, mudah saja untuk aku melepaskan dahaga yang berkobar itu, lantaran dia selalu di sana
Tentulah ada alasan aku di sini, mengapa aku sukar menggapai dia di sana
Tiada lain, biang keladinya adalah mengenai status dia di sana

O… aku kangen banget sama dia, kangen akan diriku yang selalu memandanginya dari kejauhan
Ketidakberanian adalah pangkal mengapa diriku tak mampu untuk mengaguminya dari kedekatan
Tuk bilang sekedar sepatah dua patah kata kepadanya, aku tak bisa, apalagi itu, kan tadi sudah kukatakan: sukarlah aku mendekat. Pesonanya demikian memikat
Indah nian pabila dia adalah milikku
Tentulah aku bisa menjamah kecantikan jasmaninya segenap yang kumampu bahkan liar sekalian asal jangan kelewat batas saja
Sudah halal, tentu saja
Silahkan membelai
Silahkan mencium
Silahkan bercumbu
Silahkan bercinta
Aduhai… amboi rasanya (barangkali)

O… Tuhan, gerangan siapa pasanganku di dunia ini?
Kumohon, dialah orangnya
Lantaran statusnya di sana yang kutahu adalah produk dari barat yang tak ada embel-embel visi misi ke depan hanya untuk main-main saja, hawa masa remaja, katakanlah namanya itu: sekedar pacaran
Masih bisa kuraih dirinya
Masih bisa kurengkuh dirinya
Masih bisa kutaklukan hatinya
Di suatu hari, lihatlah gebrakanku
Gebrakan seorang lelaki yang sudah tak sabar kepingin menyeruput kenikmatan dari secangkir kopi atas nama cinta

Minggu, 22 November 2009

Raja Manusia


Pokoknya Dia itu mega dahsyat
Pokoknya Dia itu Mantap abis
Pokoknya Dia itu indah bukan main
Pokoknya Dia itu kuasa tak kentara
Aku ini, tentulah tidak dahsyat
Aku ini, tentulah tidak mantap
Aku ini, tentulah tidak indah
Aku ini, tentulah tidak kuasa
Aku ini adalah manusia, sementara dia adalah sang raja
Dialah sang raja manusia, sebagai manusia biasa, tentulah aku jangan kepalang mengabdi kepadaNya

Senin, 09 November 2009

“Aku adalah sang pujangga”, perkataanku pada bayang-bayang


“aku adalah sang pujangga”, begitulah yang kukatakan kepada bayang-bayang
Aku tidak bermaksud untuk memuji diri, tetapi itulah memang fakta adanya
Merangkai kata seolah sudah menjadi pekerjaanku di sini, memuja dia di sana
Cinta adalah musabab mengapa demikian itu terjadi, ada yang bersemayam di sana
Sesungguhnya aku tak mau bergaul dengan kata-kata, beneran
Apapula itu kata-kata, pabila tak ada unsur cinta di dalamnya, hati adalah tempatnya rasa

Aku telah berjanji kepadanya bahwa hatiku hanyalah untuknya
Bukan melalui mulut kuberkata, tetapi melalui tulisan kata-kata
Cinta adalah musabab mengapa demikian itu terjadi, ada yang bersemayam di sana
Tentulah dalam janjiku itu aku tak lupa membubuhkan pertanyaan kepadanya. “Maukah kamu menerima cintaku?”

Aku di sini, jelaslah aku mencintainya
Tindakanku yang demikian itu, menjadi bukti sahih keberadaan dia di dalam kalbu
Cinta adalah musabab mengapa demikian itu terjadi, ada yang bersemayam di sana
Sementara dia di sana, aku jelaslah tidak tahu bagaimana dengan perasaannya kepadaku
Tulisan kata-kata, itulah bukti cintaku
Sementara itu, apa maksud diamnya dia di sana akan hal itu? Bingung aku

Tahulah aku, sesungguhnya bahasa cinta bukanlah bahasa kata-kata semata

Ikrar


Teratas…
Aku muslim
Tiada Tuhan selain Allah
Muhammad sang pemberi kabar kebenaran itu
Sementara Jibril adalah penyampai wahyu tersebut
Itulah yang aku tahu lantas kuseru sekemampuan

Di bawahnya…
Aku mencintainya
Tiada wanita selain dia
Hatiku sang pemberi kabar kebenaran itu
Sementara aku tidak tahu siapa gerangan yang memberi wahyu tersebut
Itulah yang aku tahu lantas kuseru sekemampuan

Kamar hitam

Kamar hitam adalah nama kamarku
Berada di pojok, jadinya terasa gelap, mesti menyalakan lampu bantu
Kamar hitam adalah nama kamarku
Mengenal cinta, sering kubersihkan ia, wajarlah kata cantik untuknya sering diseru
Mengenal cinta, meskipun gelap, sudah barang tentu sang tuan tentulah pula membikin nyaman para tamu
Kamar hitam adalah nama kamarku
Mengenal cinta, kok jadi begini, selain gelap, juga kotor
Mengenal cinta, sebagaimana dengan namanya, betullah gelap itu kamar
Mengenal cinta, sebagaimana dengan hati penghuninya, betullah gelap itu kamar
Tak betah, para tamu pun bergegas pergi keluar
Kamar hitam adalah nama kamarku
Berada di pojok, jadinya terasa gelap, mesti ditolong sama lampu

Kok langit Demikian Cerah

Katakanlah aku sekarang sedang melangkah, pergi berjuang

Ada sesuatu yang hendak kurubah, berkenaan dengan diriku
Berkenaan dengan diriku, serasa ada yang salah mengguncang pikiran menelisik kalbu
Aku sadar itu, sekali lagi: aku sadari itu.
Untungnya aku percaya, bahwa di sana ada cinta untukku
Sempat kumeragu, tetapi wajarlah itu
Malahan aku yakin sekarang, bahwa memang di sana itu ada cinta untukku
Seiring berlalunya waktu, itulah yang menyadarkanku, tetapi tetap mesti ada bukti yang bukan palsu
Sempat aku menyesal, ketika hanya keyakinanku itulah yang kubawa turut serta, tak ada yang lain
Tetapi sekarang, aku tak menyesal, mungkin itulah yang terbaik
Aku tak mau berpikir ke belakang, namun begitu bukan berarti aku melupakan yang lalu-lalu, malah dahulu itulah yang menjadi spiritku dalam aku melangkah menempuh sesuatu yang baru
Suka atau tidak, tetaplah aku mesti melangkah pergi
Suka atau tidak, ijinkanlah aku melangkah pergi

Katakanlah aku sekarang sedang melangkah, pergi berjuang untuk mewujudkan mimpi, demikian itu tak terasa semu bagiku lantaran sesungguhnya di dalam langkahku, kau pun turut serta, itulah kiranya yang membuat hatiku merasa kok di atas sana langit demikian cerah