Pohon rambat itu mendaki anjang-anjang yang kaujalin di pekarangan belakang rumahmu.
Pada pagi hari warna sekeliling menjadi kuning seperti bunganya meskipun daun-daunnya bertahan hijau.
Tanpa pernah memperhatikan warna apa sebenarnya yang dikehendakinya, pohon itu terus mendaki sampai seluruh jaringan yang kaubuat itu penuh.
Dan belalainya mulai berpikir ke mana lagi harus mendaki untuk menunjukkan bahwa apa yang sudah kaukerjakan itu tidak tampak sia-sia.
Oleh Sapardi Djoko Damono dalam buku puisi Kolam
Tampilkan postingan dengan label Puisi Sapardi Djoko Damono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Sapardi Djoko Damono. Tampilkan semua postingan
Selasa, 07 Juni 2011
Senin, 06 Juni 2011
Padang Pasir /2/
memang harus ada yang dipadamkan,
katamu. Sepanjang jalan permainan neon
dan warna - dan kata. Dan gambar perempuan
seperti menutup langit malam
menggodamu ke suatu tempat
yang kau sembunyinan di dalam otakmu.
tai kau berkata tentang apa sebenarnya?
kau balas sendiri pertanyaanmu itu.
katamu. Sepanjang jalan permainan neon
dan warna - dan kata. Dan gambar perempuan
seperti menutup langit malam
menggodamu ke suatu tempat
yang kau sembunyinan di dalam otakmu.
tai kau berkata tentang apa sebenarnya?
kau balas sendiri pertanyaanmu itu.
Sabtu, 04 Juni 2011
Padang Pasir /1/
mengapa menggigil tiba-tiba?
kau berhenti di lampu merah
waktu gadis kecil itu bernyanyi
di balik jendela mobilmu
suaranya seperti yang kaubayangkan
ketika menempuh padang pasir itu
dan mendengar: di padang pasir
tidak ada larangan memakan pasir
tetapi pernahkah kau menempuh padang pasir
seperti sekarang ini mendengar
nyanyian gadis kecil itu? Pernahkah kau merasa
terkunci dalam sebutir sel darahmu?
ketika lampu itu hijau kau seperti tak peduli
bahwa baik mendengarkan setiap nyanyian
bahwa tidak usah saja membayangkan
padang pasir - di kota yang hampir tenggelam
Oleh Sapardi Djoko Damono dalam Buku PuisiAda Berita Apa hari Ini Den Sastro?
kau berhenti di lampu merah
waktu gadis kecil itu bernyanyi
di balik jendela mobilmu
suaranya seperti yang kaubayangkan
ketika menempuh padang pasir itu
dan mendengar: di padang pasir
tidak ada larangan memakan pasir
tetapi pernahkah kau menempuh padang pasir
seperti sekarang ini mendengar
nyanyian gadis kecil itu? Pernahkah kau merasa
terkunci dalam sebutir sel darahmu?
ketika lampu itu hijau kau seperti tak peduli
bahwa baik mendengarkan setiap nyanyian
bahwa tidak usah saja membayangkan
padang pasir - di kota yang hampir tenggelam
Oleh Sapardi Djoko Damono dalam Buku PuisiAda Berita Apa hari Ini Den Sastro?
Minggu, 29 Mei 2011
Bintang dan Sungai
Malam itu sebutir bintang berkaca di wajah sungai dan jatuh cinta pada kelap-kelipnya sendiri. Aku air, bukan tempatmu menetap.
Siangnya, ketika menyeberangkan orang-orang ke tepi sana, tukang rakit itu berkata bahwa ada bintang yang tenggelam di dasar sungai.
Kabar burung beredar di kampung, seorang nelayan telah menemukan sebutir bintang di antara ikan-ikan yang berkelejotann di jaringnya.
Sapardi Djoko Damono dalam Antologi Puisi Kolam
Siangnya, ketika menyeberangkan orang-orang ke tepi sana, tukang rakit itu berkata bahwa ada bintang yang tenggelam di dasar sungai.
Kabar burung beredar di kampung, seorang nelayan telah menemukan sebutir bintang di antara ikan-ikan yang berkelejotann di jaringnya.
Sapardi Djoko Damono dalam Antologi Puisi Kolam
Rabu, 25 Mei 2011
Doa
Kau pun buru-buru menangkap doa yang baru selesai kauucapkan dan memenjarakannya di selembar kertas. Ia abadi di situ.
Ia sudah mulai merasa tenang di lembaran kertas yang hening ketika malam ini kau melisankannya keras-keras. Alangkah indahnya bunyinya.
Tidak ada yang pernah mengatakan padaku seperti apa sebenarnya hubunganmu dengan doa itu.
Sapardi Djoko Damono dalam Antologi Puisi Kolam
Ia sudah mulai merasa tenang di lembaran kertas yang hening ketika malam ini kau melisankannya keras-keras. Alangkah indahnya bunyinya.
Tidak ada yang pernah mengatakan padaku seperti apa sebenarnya hubunganmu dengan doa itu.
Sapardi Djoko Damono dalam Antologi Puisi Kolam
Selasa, 24 Mei 2011
Jejak Burung
Burung tidak meninggalkan jejak kakinya di langit.
Bukan karena langit tak suka, Sayang.
:
Ketika ia meninggalkan jejak di pasir tepi laut itu
mungkin kau juga bisa membacanya.
Dan ingat padamu, begitu ?
:
Tentu, sebelum lidah ombak laut mendahuluimu.
(Sapardi Djoko Damono dalam antologi puisi "Kolam")
Bukan karena langit tak suka, Sayang.
:
Ketika ia meninggalkan jejak di pasir tepi laut itu
mungkin kau juga bisa membacanya.
Dan ingat padamu, begitu ?
:
Tentu, sebelum lidah ombak laut mendahuluimu.
(Sapardi Djoko Damono dalam antologi puisi "Kolam")
Langganan:
Komentar (Atom)